Petambak Udang di Pinrang Sulsel Mulai Dililit Utang
Hampir seluruh dari 11.000 hektar areal tambak udang windu di Kabupaten Pinrang,
182 kilometer dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sudah tidak panen lagi sejak
tahun 1999. Bila ada tambak udang yang berhasil dipanen, persentasenya hanya
sekitar 15 persen, itu pun tambak dengan ukuran di bawah satu hektar dan
dikelola secara tradisional.
Salah seorang petambak yang ditemui Kompas, Sabtu (3/1/2004), di Desa Suppa,
Pinrang, Herman Camado, mengatakan, selama tahun 2003 ia tidak pernah menuai
hasil dari bibit udang yang disebar. Dia sudah mengeluarkan biaya sedikitnya Rp
6 juta untuk menebar bibit udang sebanyak ratusan ribu ekor selama tahun 2003.
"Semua petambak tak pernah jera dan mencoba terus untuk menebar benih karenaHampir seluruh dari 11.000 hektar areal tambak udang windu di Kabupaten Pinrang,
182 kilometer dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sudah tidak panen lagi sejak
tahun 1999. Bila ada tambak udang yang berhasil dipanen, persentasenya hanya
sekitar 15 persen, itu pun tambak dengan ukuran di bawah satu hektar dan
dikelola secara tradisional.
Salah seorang petambak yang ditemui Kompas, Sabtu (3/1/2004), di Desa Suppa,
Pinrang, Herman Camado, mengatakan, selama tahun 2003 ia tidak pernah menuai
hasil dari bibit udang yang disebar. Dia sudah mengeluarkan biaya sedikitnya Rp
6 juta untuk menebar bibit udang sebanyak ratusan ribu ekor selama tahun 2003.
masih berharap datang keberuntungan. Lagi pula, kalau tak menebar bibit,
petambak tak ada kerjaan dan areal tambak akan menganggur," ujar Herman.
Menyinggung modal yang dipakai petambak untuk menebar benih, menurut Herman,
selama ini dirinya mengutang kepada "bos" (orang yang meminjamkan uang-Red), dan
akan membayar plus komisinya setelah tambak menghasilkan. Namun, karena
tambaknya tak pernah bisa panen selama tahun 2003, jumlah utang pun menjadi
bertambah. Tahun lalu dirinya masih mengutang Rp 6 juta. Kini utang itu semakin
besar.
Namun, dirinya masih merasa beruntung karena utangnya cuma di bawah Rp 10 juta.
Banyak petani yang telah gagal panen dan utangnya kini menumpuk hingga Rp 30
juta. Mereka pun tak takut terus meminjam uang kepada "bos" untuk dipakai
sebagai modal menebar benih.
Menurut Herman, tak satu pun petambak yang mengetahui penyebab matinya benih
udang yang disebar. Bahkan, menurut dia, pemerintah tak pernah turun ke lapangan
untuk membantu memberikan penjelasan. Dia menambahkan, memang pernah tiga kali
dilakukan pertemuan dengan Dinas Perikanan dan camat, tetapi setelah itu tak ada
bantuan atau penjelasan apa pun dari pemerintah.
Manajer Boat and Aqua Culture PT Makmur Hasil Bahari, Iwan Gunawan, mengatakan,
penyebab anjloknya produksi tambak udang di Pinrang dan sebagian besar areal
tambak di Sulawesi Selatan (Sulsel) adalah akibat virus white spot. Udang itu
mematikan benih udang yang dikembangkan dalam tambak sebelum dewasa sehingga
udang seolah-olah raib setelah fisiknya seukuran jari kelingking.
Penanganan yang Sangat Lamban
Menurut Iwan, selama pemerintah belum berhasil membantu petambak untuk mengatasi
virus white spot itu, maka hasil tambak udang dipastikan tidak akan ada.
Penanganan yang dilakukan sangat lamban karena serangan virus itu sebenarnya
sudah teridentifikasi sejak tahun 1999. Virus itu juga pernah menyerang tambak
di negara Thailand, tetapi bisa diatasi.
Seharusnya, untuk mengatasi virus itu dimulai dari pembenihan udang hingga
sistem pengaturan air di areal tambak. Selama ini, benih yang dijual tak
memiliki standar sehingga kualitas benih yang disebar petambak sama sekali tidak
terukur. Bila ternyata bibit yang ditebar itu jelek, tentu hasilnya akan mudah
mati, apalagi kalau diserang virus.
Hal itu juga diakui Kepala Dinas Perikanan Sulsel Achmad Ibrahim. Menurut dia,
produksi udang Sulsel memang menurun karena gangguan penyakit. Kegagalan yang
dihadapi petambak di Pinrang merupakan masalah yang juga terjadi di hampir
sebagian besar tambak seluas 91.500 hektar yang ada di Sulsel.
Pemerintah sudah membangun laboratorium penyakit udang di Kabupaten Pangkep (51
kilometer dari Kota Makassar) untuk meneliti cara mengatasi penyakit udang di
Sulsel. Selain itu, akan diperkenalkan sistem tertutup dalam mengelola air
tambak agar udang terhindar dari penyakit.
Selain itu, petambak di Sulsel saat ini kebanyakan menebar bibit yang masih
berupa Zoea (bibit udang yang baru beberapa hari menetas), yang harganya hanya
Rp 20 per ekor, sehingga rentan untuk mati. Seharusnya, bibit yang siap
diturunkan ke tambak adalah yang sudah menjadi "gelondong" (ukurannya sudah satu
sentimeter) dengan harga Rp 75 hingga Rp 100 per ekor.
Iwan juga mengemukakan, tambak di Sulsel tidak memiliki sistem pengelolaan air
yang sehat bagi udang yang dipelihara. Hal itu dikarenakan air buangan akan
masuk lagi ke tambak yang lain sehingga menyebabkan penyakit akan menyebar.
virus white spot itu, maka hasil tambak udang dipastikan tidak akan ada.
Penanganan yang dilakukan sangat lamban karena serangan virus itu sebenarnya
sudah teridentifikasi sejak tahun 1999. Virus itu juga pernah menyerang tambak
di negara Thailand, tetapi bisa diatasi.
Seharusnya, untuk mengatasi virus itu dimulai dari pembenihan udang hingga
sistem pengaturan air di areal tambak. Selama ini, benih yang dijual tak
memiliki standar sehingga kualitas benih yang disebar petambak sama sekali tidak
terukur. Bila ternyata bibit yang ditebar itu jelek, tentu hasilnya akan mudah
mati, apalagi kalau diserang virus.
Hal itu juga diakui Kepala Dinas Perikanan Sulsel Achmad Ibrahim. Menurut dia,
produksi udang Sulsel memang menurun karena gangguan penyakit. Kegagalan yang
dihadapi petambak di Pinrang merupakan masalah yang juga terjadi di hampir
sebagian besar tambak seluas 91.500 hektar yang ada di Sulsel.
Pemerintah sudah membangun laboratorium penyakit udang di Kabupaten Pangkep (51
kilometer dari Kota Makassar) untuk meneliti cara mengatasi penyakit udang di
Sulsel. Selain itu, akan diperkenalkan sistem tertutup dalam mengelola air
tambak agar udang terhindar dari penyakit.
Selain itu, petambak di Sulsel saat ini kebanyakan menebar bibit yang masih
berupa Zoea (bibit udang yang baru beberapa hari menetas), yang harganya hanya
Rp 20 per ekor, sehingga rentan untuk mati. Seharusnya, bibit yang siap
diturunkan ke tambak adalah yang sudah menjadi "gelondong" (ukurannya sudah satu
sentimeter) dengan harga Rp 75 hingga Rp 100 per ekor.
Iwan juga mengemukakan, tambak di Sulsel tidak memiliki sistem pengelolaan air
yang sehat bagi udang yang dipelihara. Hal itu dikarenakan air buangan akan
masuk lagi ke tambak yang lain sehingga menyebabkan penyakit akan menyebar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar