01 March 2009Kemunculan kasusnya di Indonesia masih tinggi, menghambat laju produksi udang nasionalSegerombol udang tampak mengambang di tepian tambak. Tak banyak bergerak. Tapi sudah cukup mengundang perhatian burung-burung pemakan ikan. Sang burung telah mencium aroma kematian udang. Beberapa hari sebelumnya, udang-udang tersebut mulai kehilangan nafsu makan. Sebagian diantara mereka terlihat menunjukkan bintik putih di karapas kepalanya, bahkan ada beberapa yang sebagian besar tubuhnya dipenuhi bintik-bintik putih. Kalau sudah begini, bisa dipastikan bakal banyak udang yang mati dan itu berarti pesta besar [Image]bagi burung-burung pemangsa ikan dan udang.
Inilah tanda-tanda awal kemunculan penyakit white spot (WS/bintik putih), salah satu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang menginfeksi spesies udang-udangan. Direktur Kesehatan Lingkungan ? Ditjen Perikanan Budidaya ? Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Tri Hariyanto menyatakan, serangan virus ini sangat ganas dan mematikan dengan tingkat kematian udang yang telah terinfeksi virus mencapai 80 ? 100%.
Ketika pertama kali ditemukan di Taiwan pada 1992, Yana Ariana, Product Manager PT Blue Sky Biotech secara terpisah menyebutkan virus ini telah menyebabkan kematian massal pada beberapa jenis udang di sana seperti udang windu (P.monodon) dan udang kuruma (P.japonicus). Akibat serupa juga dialami Indonesia ketika virus white spot menyerang perudangan tanah air beberapa tahun silam. Tri menyebutkan, tingkat kerugian yang disebabkan oleh white spot setiap tahunnya di Indonesia mencapai US$ 300 ? 500 juta atau setidaknya Rp 3 ? 4 triliun. Celakanya, penyakit ini juga menyebabkan ribuan hektar tambak menjadi tidak produktif dan kini tak bisa digunakan lagi.
Dan sayangnya lagi, Indonesia masih kewalahan menghadapi keganasan virus ini. Yana mengatakan, dibandingkan dua negara produsen udang utama dunia, Thailand dan China, Indonesia masih kalah dalam hal penanggulangan white spot. China misalnya, pernah mengalami penurunan produksi drastis akibat serangan white spot. Yakni dari sekitar 210 ribu metrik ton pada 1993 menjadi sekitar 80 ribu metrik ton pada 1994. Tapi beberapa tahun kemudian, China kembali berhasil menggenjot produksinya bahkan telah jauh melampaui produksi di 1993. Sedangkan Indonesia tampak masih berjuang keras untuk mengatasi white spot demi adanya peningkatan produksi udang nasional (lihat grafik).
Tri menyebutkan, kasus terbanyak white spot terjadi di Jawa Timur dan Lampung yang merupakan sentra perudangan nasional. Sementara Fajar Sutriandhi, Technical Sales Manager Aquaculture PT Alltech Biotechnology Indonesia di tempat lain mengatakan, white spot sudah bisa dikatakan penyakit endemik di Indonesia karena sifatnya yang menyebar di suatu daerah setiap tahunnya. Walhasil, setiap daerah berpotensi untuk terkena wabah penyakit ini.
Cuaca Dingin, Muncul
Dari kondisi terakhir, sangat lumrah jika white spot masih menjadi momok bagi sebagian besar petambak udang di tanah air. Penyakit yang menurut Yana disebabkan oleh virus SEMBV (Systemic Ectodermal and Mesodermal Baculo Virus)?virus berbahan genetik DNA, berbentuk batang (bacilliform)?ini kasusnya cukup tinggi di Indonesia.
Hal senada juga diakui M Nadjib, Country Manager PT INVE Indonesia. ?Ancamannya masih tinggi,? katanya kepada TROBOS. Terutama pada saat cuaca dingin, ?Ketika suhu berada pada kisaran 250C sampai 270C, white spot akan gampang menyerang,? imbuhnya.
Kemunculan white spot saat cuaca dingin juga dibenarkan Wawan Siswanto, Product Manager Akuakultur PT Sanbe Farma dalam surat elektroniknya. Hujan yang terus menerus akan membuat suhu jadi rendah sehingga gampang muncul white spot. Lebih dari itu, Wawan menegaskan, white spot muncul jika kondisi lingkungan sedang tidak bagus.
Beberapa hal yang bisa membuat kondisi lingkungan jadi tidak bagus ini menurut Fajar antara lain sanitasi yang buruk, air tercemar, alkalinitas tinggi, stocking densitas udang, amonia tinggi, PH tidak seimbang dan lainnya. White spot juga akan mudah muncul jika terjadi perubahan cuaca yang ekstrim atau asupan nutrisi udang tidak seimbang. ?Udang akan stres sehingga virus akan dengan mudah menyerang,? kata Fajar.
Nadjib menambahkan, white spot biasanya muncul sebagai second disease. Yakni penyakit ikutan yang muncul setelah udang tersebut terinfeksi penyakit lain. Dan penyakit ini paling banyak ditemukan ketika udang mencapai umur 40 hari,? kata Nadjib. Walau demikian, kata Nadjib, sebenarnya tidak ada batasan umur terjadinya serangan virus white spot.
Untuk penyebarannya, Tri menyebutkan bisa secara horisontal: melalui kanibalisme terhadap udang yang sakit dan mati atau melalui saluran makanan dan aliran tambak. Selain itu juga bisa secara vertikal yaitu dari induk ke benur. Penyebaran penyakit juga bisa melalui beberapa jenis crustacea (kepiting dan udang kecil), plankton (rotifer) serta burung yang bisa menjadi carier (pembawa) penyakit ini. Virus ini mampu bertahan dan tetap infektif di luar inang (di dalam air) selama 4 sampai 7 hari.
Jika udang sudah terinfeksi virus ini maka secara patologi (kelainan dengan kasat mata) dan secara hispatologi (kelainan mikroskopik) menurut Fajar akan terlihat adanya kerusakan organ-organ misalnya insang, hepatopankreas, usus dan pembesaran jaringan-jaringan tertentu seperti jaringan kulit, jaringan saraf, limfoid dan lainnya. Sementara Wawan menyebutkan adanya infeksi yang sistemik (menyeluruh) di hampir semua organ tubuh: kaki [Image]renang, kaki jalan, insang, lambung, otot abdomen, gonad, intestinum, karapas dan jantung.
Selain melalui pengamatan tersebut, diagnosa white spot bisa dipastikan dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction). Sampel udang yang diduga terinfeksi diusahakan yang hidup agar pemeriksaan bisa lebih akurat. Bagi tambak-tambak rakyat atau tradisional, pemeriksaan PCR bisa dilakukan dengan mengirim sampel udang ke laboratorium berfasilitas uji tersebut. Tri meyakinkan, ?UPT-UPT kita di daerah telah dilengkapi peralatan ini untuk mengecek white spot.? Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Maret 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar